Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Oktober 2011

Mengapa Aku Memaafkan Suamiku ?

Saat suamimu berbuat kesalahan, dan itu menyakitimu, dengan sangat, menangislah, jika itu bisa melegakanmu. Jangan paksakan dirimu untuk tetap terlihat tegar, karena kau hanyalah manusia yang juga punya rasa kecewa, marah dan berhak protes atas sikap beliau. Maka biarkan air mata jatuh untuk kelegaan hatimu.

Namun...

Rapuhnya batinmu saat itu sebagai seorang perempuan, jangan sampai menghilangkan ingatanmu, bahwa dalam keadaan sedih dan sekalipun, kau harus tetap mengingat Allah.

Kau memang marah, kau kecewa terhadap beliau, tapi jangan kau menyimpannya terlalu lama sehingga Allah menilaimu sebagai istri yang pendendam dan pemarah. Bayangkan ketika kau mendapat julukan itu dari manusia, betapa keberatannya dirimu. Apalagi jika Allah yang memberikannya untukmu karena sudah tidak adanya kesabaran dari hatimu. Maka memang jika tidak bisa kau hentikan tangismu, tapi kendalikan hatimu untuk segera memaafkannya.

Beruntunglah karena beliau yang berbuat kesalahan dan bukan dirimu, karena itu adalah kesempatan untukmu, untuk menyadarkan beliau, bahwa kau adalah seorang yang dapat belajar untuk membahagiakannya, walaupun dalam keadaan kau kecewa dan beliau telah salah kepadamu sekalipun.

Rendahkan suaramu saat menyampaikan materi protesmu kepadanya. Sampaikan dengan kata- kata yang halus, dan memasang senyum terbaikmu. Maka yakinlah bahwa beliau akan mengerti, betapa kau belajar santun kepadanya, bahkan ketika akal sehat sudah mulai hilang karena kekecewaanmu. Tapi kau tidak mau membiarkan hatimu dikuasai oleh rasa. Rasa amarah dan dendam hanya akan membakar kasih sayang yang ada di hati beliau. Dan ingatlah tentang satu hal bahwa cara terbaik menghukum orang yang telah menyakitimu, adalah berbuat santun dan baik kepadanya.
...Dan ingatlah tentang satu hal bahwa cara terbaik menghukum orang yang telah menyakitimu, adalah berbuat santun dan baik kepadanya...
Jika kau bersabar dalam kemarahan karena kesalahan suamimu, maka lihatlah betapa bidadari akan begitu cemburu kepadamu. Lihatlah betapa suamimu akan senantiasa ridho untuk dirimu. Begitu bahagianya dia karena memiliki pasangan jiwa yang terlalu luas hatinya untuk dia sakiti lagi. Dan begitu menyesalnya dia karena telah dengan ceroboh dan khilaf menyakiti seseorang yang sangat perduli terhadapnya.

Ingatlah, bahwa setan selalu merasuki jalan darahmu, maka segera sebutlah nama Allah. Dan sadarilah bahwa suamimu pun hanya manusia, seperti halnya dirimu. Mungkin saat ini beliau yang bersalah, tapi siapa yang bisa menjamin bahwa suatu hari kaulah yang melakukan kesalahan?. Dan ketika kau pada posisi bersalah, bukankah kau juga menginginkan untuk dimaafkan, diingatkan dengan cara kasih sayang, dan dirangkul kembali oleh suamimu?. Maka mengapa kau harus menunggu beliau berbuat seperti itu, mulailah dengan mencontohkan kepadanya. Maka dia akan mengerti betapa sayang istrinya ini kepadanya, bahkan lebih dari cara beliau menyayangi dirinya sendiri.

Apakah kau percaya bahwa Allah selalu melihatmu?. Dan apakah kau akan rela bahwa Allah akan menilaimu sebagai istri yang hanya sampai disitu kesabarannya, saat kau dengan mudah mengumbar amarah dan kesedihan hatimu. Ya, kau memang berhak kecewa, karena suamimu memang bersalah. Namun itulah skenario cantik Allah agar kau sadar, dan agar suamimu tahu seberapa jauh kualitas dirimu dalam bersabar dan memaafkan. Maka buktikanlah. Buktikan yang terbaik yang kau bisa.

Subhanallah, betapa cantik dirimu saat memaafkan. Bahkan Allah-pun ridho kepadamu. Allah bangga terhadapmu, hambanya yang sabar dan begitu luas hatinya. Allah bangga terhadap hamba wanitanya yang berhias dengan sifat- sifat yang mulia. Ingatlah, Beliau tidak akan berada disismu selamanya. Semoga saat beliau mengusung tandu kerandamu nanti, suamimu itu akan senantiasa mengingatmu sebagai seorang istri yang begitu sangat pengertian, pemaaf, dan penyabar atas dirinya. Semoga

(Syahidah/voa-islam.com)

Para Wanita Pemuja Kecantikan

Kehidupan menawarkan berbagai hal yang menyilaukan mata. Godaannya bisa menghanyutkan hati siapa saja yang dengan rela melekatkan diri kepadanya. Salah satunya adalah tentang kecantikan fisik. Kehebatan daya pikatnya seperti menyihir banyak orang.

Tidak hanya itu saja, kecantikan fisik juga telah banyak mengubah pola pikir manusia, khususnya wanita. Salah satunya adalah, mereka berpendapat jika kecantikan tersebut haruslah menjadi hak milik setiap wanita. Ke identikan itu biasanya di wujudkan dengan make up atau riasan, bahkan sampai dengan operasi.

Lambat laun, tak hanya kaum hawa, para suamipun tak kalah ambil bagian dalam menyemarakkan tema kecantikan tersebut. Banyak dari mereka yang justru meminta, bahkan mensyaratkan khusus kepada para istri- istrinya agar tampil cantik di saat tampil di depan umum. Dengan begitu terbitlah sebuah kebanggaan tersendiri, jika para istri mereka justru menjadi santapan bagi pandangan liar laki- laki lain. 

Hal ini tak lepas pula dari peran media yang mengusung iklan dengan slogan bombardirnya bahwa, dunia boleh menua, namun kita tak boleh kelihatan tua. Hal ini juga turut memberikan pengaruh besar terhadap perubahan sikap dan pendapat mereka mengenai bagaimana menjadi cantik dan atau membuatkan mereka terpuaskan dengan kebutuhan untuk menjadi cantik.

Langkah selanjutnya...

para wanita tak puas hanya dengan sekedar make up. Mereka berbondong- bondong mendatangi operasi plastik, botox,facelift, angkat alis, implan pipi, operasi hidung dan, sulam bibir.dll. Banyak dari mereka pun berdalih untuk membahagiakan suami atau menghargai diri sendiri. Mereka juga mengatakan bahwa menjadi cantik berarti terbuka kesempatan bagi mereka untuk mendapatkan peluang kerja. Selain itu, dengan sebuah kecantikan maka keberuntungan pastilah menjadi teman akrab mereka.  Karena itu mereka dengan rela melepas berarapun biayanya demi menjadi pemilik kesempurnaan, pemilik perhatian dan pujian atas sebuah kecantikan.

Namun, ada satu hal yang akan terasa mengerikan bagi mereka, yaitu adalah tentang menjadi tua, atau bahkan hanya sedikit kelihatan tua. Sindrom hilang popularitas ataupun ketakutan atas hilangnya kasih sayang dari orang yang mencintai, menjadikan "tua" sebagai momok yang sangat ingin dihindari.

Tapi begitulah wajarnya sebuah hukum alam yang tetap akan berjalan terus. Betapapun cantiknya mereka, tak akan ada yang dapat mengalahkan sebuah waktu.Dan saat mereka menyadari nanti, ternyata kecantikan hanyalah jebakan dimana mereka akan menghabiskan separuh lebih hidup mereka, untuk bertahan dalam pemenuhan keinginan orang lain atas diri mereka.

Apakah mereka bahagia? mungkin. Tapi tidak lama, karena semua yang palsu tidak akan bertahan lama. Dan seterusnya, mereka akan seperti membuat "dinding penjara" yang sangat menyesakkan bagi diri mereka sendiri.

Maka Jujurlah dan bahagiakan diri sendiri dengan menjadi apa adanya. Cobalah sesekali untuk membebaskan diri dari riasan tebal dan "polesan topeng" yang berlebihan yang ternyata menjadikan anda bukan seperti diri anda. Bebaskan hati kita dengan sebuah cinta yang besar terhadap diri sendiri.

Jangan lah bersedih. Saat anda melihat diri sendiri di cermin dan ternyata anda telah terlihat menua. Memang tidaklah lagi anda memiliki kemulusan kulit ari yang dulu ada. Namun kecantikan pada usia tua, justru semakin menjadikan anda matang dan yakin tentang apa yang anda mau. Kecantikan yang melekat pada diri itu adalah tentang kebijaksanaan.

Yakinlah, bahwa sebenarnya anda akan lebih bahagia saat orang lain menerima dan mencintai anda dengan anda yang apa adanya. Dan kecantikan abadi, seperti yang anda harapkan selama ini adalah berasal dari kebaikan hati yang anda lakukan. Hal inilah yang akan menjadi kado istimewa untuk diri anda sendiri, keluarga dan makhluk di sekitar anda. Dan inilah pula yang tersisa, bahkan setelah nanti anda tiada.

 
(Syahidah/voa-islam.com)

Kuserahkan Putriku Padamu (Renungan untuk Para Suami)


Saat pertama kali putri kecil kami terlahir di dunia, dia menjadi simbol kebahagiaan bagi kami, orang tuanya. Bahagia yang tiada tara kami rasakan karenanya. Kami menjaganya siang dan malam, sampai kami melupakan keadaan diri sendiri. Kami sadar, memang seharusnyalah seperti itu kewajiban orang tua.

Kami besarkan dia dengan segenap jiwa dan raga. Kami didik dengan semaksimal ilmu yang kami punya. Dan kami jaga dia dengan penuh kehati-hatian.

Dan waktupun berlalu...

Dia kini telah menjadi sesosok gadis yang cantik. Betapa bangga kami memilikinya. Kami berpikir, betapa cepat waktu berlalu, dan terbersit dalam hati kami untuk tetap menahannnya disini. Bukan bermaksud meletakkan ego kami atas hidupnya, Namun sebagai orang tua, siapa yang dapat berpisah dari anaknya. Putri kesayangannnya. 

Tapi,...
Hari ini, akhirnya datang juga. Saat dimana kami harus melihatnya terbalut dalam pakaian cantik, yaitu gaun pengantinnya. Gadis kecil kami telah tumbuh dewasa. Dan sesudah ijab kabul ini, kau lah kini yang menjadi penjaganya. Menggantikan kami. Mari ikatkan tanganmu kepadanya.

Waktu akhirnya memaksa kami berpisah dengannya. Walaupun kau adalah orang yang asing dan baru sebentar dikenalnya, sedangkan kami adalah orang tuanya yang telah mengorbankan semua yang kami punya untuknya. Namun, tak ada sama sekali kemarahan kami atas dirimu, menantuku. Namun ijinkan kami sedikit meluapkan kesedihan atas seorang putri kami yang harus jauh meninggalkan kami, karena harus mengikutimu. Kamipun tak akan protes kepadamu, karena mulai hari ini, dia harus mengutamakan kau diatas kami. 

Tolong, jangan beratkan hatinya, karena sebenarnya pun hatinya telah berat untuk meninggalkan kami dan hanya mengabdi kepadamu. Seperti hal nya anak yang ingin berbakti kepada orang tua, pun demikian dengannya. Kami tidak keberatan apabila harus sendiri, tanpa ada gadis kecil kami dulu yang selalu menemani dan menolong kami dimasa tua.

Kami menikahkanmu dengan anak gadis kami dan memberikan kepadamu dengan cuma- cuma, kami hanya memohon untuk dia selalu kau jaga dan kau bahagiakan.

Jangan sakiti hatinya, karena hal itu berarti pula akan menyakiti kami. Dia kami besarkan dengan segenap jiwa raga, untuk menjadi penopang harapan kami dimasa depan, untuk mengangkat kehormatan dan derajat kami. Namun kini kami harus menitipkannya kepadamu. Kami tidaklah keberatan, karena berarti terjagalah kehormatan putri kami.

Jika kau tak berkenan atas kekurangannya, ingatkanlah dia dengan cara yang baik, mohon jangan sakiti dia, sekali lagi, jangan sakiti dia.

Suatu saat dia menangis karena merasa kasihan dengan kami yang mulai menua, namun harus sendiri berdua disini, tanpa ada kehadirannya lagi. Tahukah engkau wahai menantuku, bahwa kau pun memiliki orang tua, pun dengan istrimu ini. Disaat kau perintahkan dia untuk menemani orang tuamu disana, pernahkah kau berpikir betapa luasnya hati istrimu? Dia mengorbankan egonya sendiri untuk tetap berada disamping orang tuamu, menjaga dan merawat mereka, sedang kami tahu betapa sedih dia karena dengan itu berarti orang tuanya sendiri, harus sendiri. Sama sekali tiada keluh kesah darinya tentang semua itu, karena semua adalah untuk menepati kewajibannya kepada Allah.

Dia mementingkan dirimu dan hanya bisa mengirim doa kepada kami dari jauh. Jujur, sedih hati kami saat jauh darinya. Namun apalah daya kami, memang sudah masa seharusnya seperti itu, kau lebih berhak atasnya dari pada kami, orang tuanya sendiri. 

Maka hargailah dia yang telah dengan rela mengabdi kepadamu. Maka hiburlah dia yang telah membuat keputusan yang sedemikian sulit. Maka sayangilah dia atas semua pengorbanannya yang hanya demi dirimu. Begitulah cantiknya putri kami, Semoga kau mengetahui betapa berharganya istrimu itu, jika kau menyadari.

(Syahidah/Voa-islam.com)

Selasa, 27 September 2011

Mengelola Konflik Dalam Keluarga

Untuk meraih keluarga sakinah tidaklah mudah, penuh terjal dan berliku termasuk terjadinya konflik di dalam rumah tangga, jangan takut terjadi konflik karena itu bukanlah bahaya yang mengancam rumah tangga. Selama konflik dikelola dengan baik justru akan mendatangkan ketenteraman dan kebahagiaan di tengah keluarga, sebab konflik merupakan bagian dari proses belajar dan proses saling mendewasakan. Rasulullah mengingatkan setiap pasangan keluarga adalah cerminan seorang Mukmin bagi Mukmin lainnya yang harus saling menjaga, ‘Seorang Mukmin adalah cermin bagi Mukmin lainnya, ia mencegah kerusakannya dan memelihara yang bersangkutan saat dia tidak ada.’ (H.R Abu Dawud).

Berteriak keras untuk mempertahankan sudut pandang adalah hal yang paling sering dilakukan pasangan suami istri ketika terjadi konflik, ini menyebabkan kondisi semakin sulit dan hubungan semakin kacau. Anda haruslah menentukan tujuan yang jelas dari konflik yang sedang dihadapi, apakah anda ingin keluar menjadi pemenang? Atau berusaha membuktikan diri anda benar dan pasangan anda salah? Sungguh bila berpikir seperti itu maka anda akan membayar mahal dikemudian hari. justru sepatutnya anda bisa menjaga harga diri pasangan disaat-saat kritis seperti itu, walaupun pasangan anda salah. 

Sebab menjatuhkan harga diri, hanya akan menyulut kebencian pasangan yang tidak akan pernah bisa dilupakannya dan akan dibalas penghinaan itu. Apakah anda mengira dengan memenangkan konflik anda akan bisa memaksa pikiran anda kepada pasangan? Hal itu tidak mungkin terjadi. Justru malah membuang waktu dan usaha, maka yang harus anda lakukan adalah menghormati sudut pandang pasangan anda meskipun anda tidak setuju.

Itulah sebabnya, jangan takut terjadi konflik karena itu bukanlah bahaya yang mengancam rumah tangga. Bukankah setiap masalah selalu memiliki jalan keluar? Selagi kedua pasangan berusaha saling memahami dalam suasana penuh kasih sayang maka konflik membuat keluarga semakin sehat, indah dan membahagiakan.

Sebagaimana dalam Firman Allah, ‘Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum berpikir. (QS. ar-Ruum : 21).

Sejukkan Hati Dengan Cinta

Cinta dan kasih sayang adalah nilai-nilai yang bersifat concept kita akan sepakat bahwa cinta dan kasih sayang merupakan pondasi dalam kehidupan bermasyarakat.

Cinta dan kasih sayang didalam al-quran disebut dengan cinta rahmah (Q/30: 31). Cinta Rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan sesamanya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan orang lain meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan dan selalu memaafkan kesalahan. 
Cinta dan kasih sayang juga cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan cinta anak pada orang tua. Dari itu maka dalam al Qur’an, kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis cinta dan kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim. maka dianjurkan untuk selalu silaturrahmi artinya menyambung tali cinta kasih. 

Al-Qur’an menawarkan janji kepada mereka yang senantiasa menebarkan cinta dan kasih sayang juga yang mengikuti petunjuk Allah Subhanahu Wa ta’ala,  berupa pahala dan kebahagiaan hidup yang dalam berbagai surat dalam al-Qur’an disebut dengan berbagai regulation yang menarik, seperti ampunan, pahala yang besar, pahala yang mulia, pahala yang baik, pahala yang tidak ternilai, pahala di dunia, pahala akhirat, rizki yang mulia, tempat kesudahan yang baik, kemenangan yang dekat, dan pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta surga.

‘Yuk, sejukkan hati dengan cinta dan kasih sayang agar dunia terlihat semakin indah, membuat hidup kita bahagia di dunia dan di akhirat. ‘Apabila engkau sayangi sesamamu, maka Allah akan menyayangimu’ (HR. Bukhari).

Kasih Sayang Seorang Suami

Ketulusan cinta dan kasih sayang akan terlahir dari sikap yang penuh keikhlasan dan hanya berharap keridhaan Allah yang mampu mengarungi samudra kehidupan yang tak bertepi, berbagai terpaan badai dan gelombang mampu dilewatinya, itulah yang mewujudkan kasih sayang seorang suami. Beliau adalah seorang suami bersama istri dan anak-anaknya. 
Pada suatu hari keluarganya mendapatkan ujian, istrinya tubuhnya meriang, panas tinggi bahkan disentuh saja, ia menjerit. Saat itu juga segera dilarikan ke dokter dan dokter tahu apa yang dideritanya.  penyakit yang diderita tidak mengenal watu dan tempat, bisa menyerang kapan saja. Bila penyakitnya muncul, semua persendian akan mengalami peradangan yang luar biasa sakitnya. 

Peradangan ini menimbulkan memar dan panas. Sebagai seorang suami, dirinya berusaha untuk tegar, ditahan atmosphere matanya agar sang istri kuat menghadapi sakit yang dirasakan. Dengan penuh kasih sayang ia merawat istrinya, mengangkat badan perlahan-lahan, meletakkan dengan pelan saat memandikan, memakaikan bajunya. Bersama anak-anak, mereka melayani sang ibunda tercinta dengan baik. Ditengah rasa pilu dihati, sebagai suami berusaha untuk tersenyum ketika wajah istrinya tengah menahan sakit. ‘Alhamdulillah, Saya beruntung mendapatkan suami seperti ayah. Sabar dan ikhlas. Insya Allah, saya segera sembuh.Tutur sang istri, wajahnya begitu terlihat tenang dan tidak sedikitpun mengeluhkan rasa sakit yang menderanya.

Tentu saja ucapan sang istri membuat hatinya terasa perih, ia teringat bagaimana dulu ketika mereka bertemu dan kemudian memutuskan untuk menikah, diawal pernikahannya pahit getir kehidupan berumah tangga mampu dilewati bersama sampai kemudian anak-anaknya terlahir dan mengasuhnya hingga dewasa, tanpa terasa atmosphere matanya menetes, rasa takut kehilangan tiba-tiba muncul menghinggapi dirinya, mampu ditepisnya dengan berserah diri kepada Allah. Ditengah kecemasan itulah beliau datang ke Rumah Amalia untuk berbagi agar Allah berkenan memberikan kesembuhan bagi istri yang dicintainya. 

Beberapa hari kemudian, dokter memberitahukan kepada beliau bahwa istrinya memiliki harapan untuk sembuh dan kondisinya telah membaik. Bahkan diperkenankan oleh dokter untuk pulang ketika istrinya dinyatakan dalam keadaan sehat walfiat. Dirinya  bersama anak-anaknya merasakan kebahagiaan, dengan penuh rasa syukur kepada Allah atas kesembuhan dan kasih sayang yang diberikan Allah bagi keluarganya. ‘Terima kasih Ya Allah, atas limpahan kasih sayangMu untuk kami,’ tuturnya dengan penuh linangan atmosphere mata, itulah wujud kasih sayang seorang suami.

Cinta Itu Harum Semerbak Mewangi

Cinta itu harum semerbak mewangi disaat kita mampu menjaga dan merawatnya sekalipun ditengah perih terluka namun kita mampu memaafkan. Ketika itu Badai datang waktu perusahaan suaminya bekerja gulung tikar akhirnya suaminya mengajukan pensiun dini karena masih muda dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan sesuai bidangnya. Setiap kali mendapatkan pekerjaan, selalu saja berhenti dan berpindah ke perusahaan lain karena dengan alasan kurang nyaman. Sebagai istri, dirinya selalu mengingatkan agar “istiqomah” dalam mencari nafkah, tidak mudah pindah-pindah ke perusahaan lain. Sifatnya yang mudah tersinggung ternyata ikut mempengaruhi kinerjanya. Kalau ada sesuatu yang tidak ia sukai , baru beberapa bulan bekerja, suaminya lantas mengundurkan diri. Sifat keras dan mudah tersinggung itulah yang selalu saja memicu pertengkaran.
Perjalanan kehidupan bahtera rumah tangganya selalu saja dipenuhi dengan pertengkaran demi pertengkaran, namun tak selama kondisi pertahanan batinnya kokoh untuk bisa menerima perlakuan suaminya. Seringkali dibentak membuat tubuh dan batin gemetar. Selama lebih dua belas tahun pernikahannya beberapa kali sempat melontarkan kata meminta cerai.  Bahkan ketika orang tua tahu akan hal itu, sempat memperingatkan padanya agar untuk memikirkan dengan matang. Suaminya tidak pernah menanggapi ucapannya. Sampai kemudian terjadi pertengkaran hebat. Ditengah masing-masing ego menguat, suaminya memutuskan untuk menerima keputusan dirinya untuk berpisah, membuat atmosphere matanya mengalir. Isak Tangis tak mampu ditahannya. Anaknya semata wayang berlari, memeluknya. Menangis dipangkuan ibunya. Matanya seolah mengatakan, “Jangan tinggalkan ayah, Mah.”

Di Rumah Amalia Ia duduk terdiam beberapa saat lama, dalam kesedirian merenungkan apa yang sebenarnya terjadi. Hari itu beliau berkenan berbagi untuk Rumah Amalia dengan harapan agar Allah berkenan memberikan kekuatan dan kesabaran untuk bisa memaafkan serta keluarganya bisa utuh kembali. Begitu pulang sampai di Rumah, suami dan putrinya sudah menunggu. Sang suami memeluk dirinya dan meminta maaf atas perlakuannya selama ini. Sementara anaknya memegang tangannya. Keajaiban itu terjadi. Doa dan harapannya terkabul, keluarganya utuh kembali, begitu terasa indah dan membahagiakan. Suaminya menunjukan perubahan ke arah yang lebih baik, bisa mengendalikan emosinya dan semakin mendekatkan diri kepada Allah. Sebagai seorang istri, dirinya telah menemukan makna cinta dengan memaafkan, seperti sekuntum bunga yang menebarkan keharumannya kepada orang yang telah melukai hatinya untuk menggapai cinta yang hakiki yaitu cintanya kepada Allah.

“Seorang suami apabila memandang istrinya dg kasih sayang istripun memandang dg kasih sayang maka Allah memandang keduanya dg pandangan kasih sayang. Bila suami memegang telapak tangan istrinya maka dosa-dosa keduanya berguguran dari celah jari-jari tangan keduanya” (HR. Rafi’i).

Betapa Bahagianya Aku di Sisimu

Ketika kehidupan dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang, terucap dalam sukma. Membisikkan kata mesra kepada orang yang kita cintai, “Sayang, betapa bahagianya aku disisimu.” Kebahagiaan Itu menimbulkan rasa nyaman dan tenteram dan damai dalam tubuh kita.

Rasa tenteram dan bahagia itu bukanlah sesuatu yang datangnya kebetulan tetapi memang dirancang dan direncanakan oleh Allah dengan sangat matang.
Ketenteraman dan kebahagiaan yang terlahir karena adanya kasih sayang. Perasaan kasih sayang pada suami istri “ditiupkan” oleh Allah ke dalam hati mereka dan itulah bukti betapa Allah sangat berkuasa atas diri kita. 

Kita merawat cinta dan kasih sayang yang telah ditiupkan ke dalam sanubari kita, kebahagiaan dan ketenteraman kita akan rasakan. Kitapun mengungkapkan dengan setulus hati, kecintaan kita kepada pasangan kita tetapi sebaliknya, bila kita menodainya dengan nafsu amarah maka ketenteraman dan kebahagiaan tidak pernah terwujud. Allah telah memberikan kebun indah dengan berhias aneka warna dan harum mewangi agar kita dapat menciptakan ketenteraman dalam hidup kita.
Selanjutnya kita sendirilah yang diberikan kebebasan mengambil peran dalam upaya meraih ketenteraman tersebut dengan jalan merawat dan tidak menciderai rasa cinta serta kasih sayang.

Disaat kita merawat seringkali tangan kita terluka terkena duri. Kalau kita mengerti, kita tidak akan mengeluh disaat kita merawat cinta dan kasih sayang keluarga kita sebab kasih sayang Allah menguatkan kita melalui  duri-duri tajam kehidupan, semua itu mengajarkan kita dan melatih kesabaran kita untuk tetap kuat dan kokoh dalam menghadapi masalah.
–
“Dan diantara tanda-tanda kebesaranNya ialah Dia menciptakan pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan Dia jadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. ar-Ruum : 21).

Figur Seorang Suami

Bagaimana dengan keteladanan kita, Rasulullah Shalallahu'alaihi wa Sallam sebagai seorang suami? Tentu saja beliau layak menjadi figur teladan para suami. Walau beliau Shalallahu'alaihi wa Sallam memiliki kedudukan yang mulia dan derajat yang tinggi, acapkali turut mengerjakan dan membantu pekerjaan rumah tangga.

Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad Rahimahullah dan Imam at Tirmidzi Rahimahullah,
Aisyah Radhiallahu'anha pernah ditanya, 'Apakah yang dilakukan Rasulullah Shalallahu'alaihi wa Sallam didalam rumah? Ia menjawab, 'Beliau adalah seorang manusia biasa. Beliau menambal pakaiannya sendiri, memerah susu, dan melayani diri beliau sendiri.'

Demikian pula dalam pergaulan, beliau merupakan pribadi yang menyenangkan semua pihak dari anak kecil hingga orang tua. Beliau senantiasa tersenyum, luhur budi pekerti lagi rendah hati, beliau bukanlah orang yang kasar, tak suka berteriak, bukan tukang cela, bahkan dalam perkara yang banyak orang anggap sepele, beliaupun ternyata tak pernah mencela makanan yang tak disukainya.

Beliau Rasulullah Shalallahu'alaihi wa Sallam pun ternyata jauh dari kesan yang dibayangkan oleh banyak orang seperti suami yang selalu serius, disiplin, dan tegas. Padahal beliau adalah suami yang paing lembut dan seorang periang. Sikapnya terhadap istri beliau terkadang dengan wajah yang riang penuh sendau gurau jauh dari kesan formal.

Walau demikian, Beliau Shalallahu'alaihi wa Sallam tetap berwibawa dihadapan para istrinya. Kelembutan, bercanda, berlapang dada dari kemarahan, tak menghalangi beliau untuk bersikap tegas dan disiplin terhadap para istrinya dalam kondisi yang tidak sesuai. Ketika para istri beliau menuntut terlalu banyak dalam hal nafkah dan perhiasan, maka sikap beliau ketika itu marah dengan kemarahan yang halus dimana beliau bertekad untuk tidak mendekati mereka selama 1 bulan seperti yang dijelaskan oleh Al Quran dalam surat Al-Ahzab: 28-29.

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, "Jika kamu seklaian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki keridhaan Allah dan RasulNya serta kesenangan di negri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar."

Disamping itu beliau sebagai suami tentu saja kesetiaannya tak ada duanya. Beliau Shalallahu'alaihi wa Sallam tetap menjaga kesetiaan kepada Khadijah ketika masih hidup bahkan hingga wafat. Ia senantiasa memuji istrinya dalam banyak kesempatan dan menyambung hubungan terhadap orang yang memiliki hubungan dengan Khadijah tatkala masih hidup.

[Disalin dari majalah Nabila Edisi 09/Tahun1/Februari 2005]

Sabtu, 24 September 2011

17 Pedoman Hidup

1. Jika sudah terjadi masalah, tdk harus dihindari (bingung), tapi HARUS DIHADAPI dengan tenang dipikirkan jalan keluarnya) dan pasti selesai/ ada jalan keluarnya.

2. Menghadapi semua hal, tdk boleh berpikir negatif, seperti: "saya pasti tdk mampu", "saya tdk bisa", dan seterusnya. Tapi selalu berpikir positif, seperti: "saya bisa, pasti ada jalan keluarnya" dan lain lain.

3. Susah dan senang semuanya tergantung pikiran saja!! ( Pikiran adalah pelopor!!). Jadi jaga pikiran kita baik - baik. Jangan pikir yang jelek/negatif. Selalu berpikir yang positif (baik).

4. Segala kesulitan/kesusahan akan berakhir. sebesar apapun masalahnya akan selesai juga dengan berjalannya waktu. Seperti pepatah mengatakan : TIDAK ADA PESTA YANG TIDAK BERAKHIR.

5. Orang yg sukses 85% ditentukan dari sikap/prilaku, 15% baru ditentukan ketrampilan. Jadi sikap kita dalam hidup ini sangat penting.

6. Segala sesuatu berubah (anicca). Kita tdk perlu susah. Misalnya : sekarang susahnya, selanjutnya pasti berubah menjadi senang. sekarang ada orang yang tdk senang pada kita, suatu saat nanti akan baik juga.

7. Hukum karma, berarti berbuat baik akan mendapat hasil baik dan sebaliknya, seperti tanam padi, pasti panen padi. Ingat!! Usahakan setiap saat selalu berbuat (tanam) kebaikan agar mendapatkan (panen) kebaikan. Jgn melakukan kejahatan. Dan jgn berharap mendapat balasan dari perbuatan baik kita!!!

8. Kesehatan asalah paling nomor satu (berhaga). Jaga kesehatan kita dengan olahraga, istirahat yang cukup dan jangan makan sembarangan.

9. Hidup ini penuh dengan masalah/persoalan/penderitaan. Jadi kita sdh tahu TIDAK MUNGKIN SELALU LANCAR/TENANG. Siapkan mental, tabah, sabar dan tenaga untuk menghadapinya. itulah kenyataan hidup yang harus dihadapi oleh setiap manusia.

10. Masa depan seseorang sangat tergantung pada sikap dan buku buku yang dibaca. Jadi membaca sangat penting dan menentukan masa depan seseorang.

11. Jangan membicarakan kejelekan orang lain, karena kita akan dinilai jelek oleh orang yg mendengarkannya.

12. Pergaulan sangat penting dan merupakan salah satu kunci sukses. Boleh bergaul dengan orang jahat maupun baik asal kita HARUS TAHU DIRI/JANGAN TERPENGARUH LINGKUNGAN. Lebih baik lagi apabila kita bisa menuntun yang jahat ke jalan yang benar.

13. Budi orang tua, tidak dapat dibayar dengan apapun juga. begitu juga dengan budi orang2 yang telah membantu kita.

14. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Jadi jangan minder dengan kekurangan kita. dan jangan iri dengan kelebihan orang. HARGAILAH DIRIMU APA ADANYA!!!

15. JANGAN MEMPERTENTANGKAN (MEMPERDEBATKAN) hal hal kecil yang tdk berguna dengan siapapun juga.

16. Kunci sukses dlm hidup ini, selalu bersemangat, berusaha, disiplin, sabar, bekerja keras, rajin berdoa/sembahyang, banyak berbuat baik serta tdk blh berputus asa.

17. Jangan Menilai orang dari Harta(kekayaan), penampilan ataupun kondisi fisik. Semua orang itu SAMA!!!

3 RAHASIA HIDUP SUKSES SAMPAI SELAMA-LAMANYA


          Ada banyak rahasia, tips dan kunci untuk mencapai kesuksesan di dalam hidup ini, mulai dari yang ditulis di dalam buku-buku pengembangan diri, sampai yang banyak dipresentasikan pada seminar-seminar motivasi dengan biaya yang sangat mahal. Yang menjadi pertanyaan, apakah semuanya itu bisa bertahan sampai selama-lamanya? Apakah semuanya itu dapat bertahan saat keadaan sudah tidak sesuai dengan yang dibayangkan? Lebih daripada itu semua, ada tiga rahasia hidup sukses yang sangat sederhana dan dapat diterapkan detik ini juga, dan yang ketiganya tidak bisa dipisahkan, bahkan ketiganya saling berkaitan satu sama lain, dan ini adalah rahasia untuk mencapai kesuksesan dan mempertahankan kesuksesan tersebut, sampai selama-lamanya.

1. Takut Akan Tuhan! Tuhan adalah sumber dari segala kehidupan. Tuhan adalah awal dari segala kehidupan. Tuhan adalah akhir dari segala kehidupan. Tidak ada satu perkarapun yang terjadi tanpa sepengetahuan Tuhan. Kita manusia bisa menyembunyikan isi hati kita kepada manusia lainnya, tetapi kita tidak akan pernah bisa menyembunyikan isi hati kita dari Tuhan. Tuhan tahu segala-galanya yang ada di dalam lubuk hati kita yang paling dalam sekalipun, meskipun kita berusaha menyembunyikannya. Maka dari itu hiduplah dengan takut akan Tuhan, jagalah hati kita agar tidak melawan Tuhan, dan jagalah hati kita agar tetap setia kepada Tuhan, sampai selama-lamanya. Karena Tuhan tahu apa yang ada di dalam hati kita, dan selanjutnya Tuhan akan menentukan apa yang akan terjadi atas hidup kita, sesuai dengan apa yang ada di dalam hati kita. "Orang jahat boleh saja menyembunyikan isi hatinya yang jahat itu dari orang lain, dan merencanakan perbuatannya yang jahat itu terhadap orang lain, tetapi, sampai selama-lamanya orang baik yang hidup dengan takut akan Tuhan, tidak akan pernah ditinggalkan-Nya, bahkan orang jahat pun tidak akan mampu mencelakakannya."

2. Disiplin! Mulai sekarang, belajarlah untuk hidup disiplin dalam segala hal, meskipun sulit, meskipun banyak rintangan, meskipun banyak godaan, meskipun banyak hambatannya, meskipun berat, tetapi sepanjang sejarah dunia ini, orang yang hidup dengan menabur disiplin yang tinggi akan menuai hasil berlipat-lipat kali ganda. Sepuluh kali lipat, seratus kali lipat, bahkan sampai seribu kali lipat akan dihasilkan dari tangan orang yang hidupnya dipenuhi dengan disiplin dalam segala hal. Karena apa yang kita kerjakan pada hari ini, akan menentukan apa yang akan kita peroleh pada hari esok. Apa yang kita tabur sekarang ini, akan menentukan apa yang akan kita tuai pada masa yang akan datang, bahkan untuk hal-hal yang sekecil apapun yang kita lakukan pada hari-hari ini, akan menentukan perkara-perkara besar yang pasti akan terjadi pada hari-hari yang akan datang. Berjalanlah dengan melihat ke depan, jangan terus-terusan melihat kebelakang. Yang dibelakang cukup dijadikan sebagai pengalaman saja, karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di depan, tetapi kita masih dapat menentukan yang mungkin terjadi di depan, yaitu melalui apa yang sedang kita kerjakan dan lakukan saat ini, sekarang ini, hari ini, dan detik ini. "Orang yang malas, boleh saja menghabiskan hari-harinya hanya untuk menyenangkan dirinya sendiri dan hidup semaunya sendiri, tetapi, sampai selama-lamanya orang yang hidupnya rajin dan disiplin tidak akan pernah kekurangan apapun juga yang dia perlukan, walaupun dunia ini dilanda kelaparan, namun dia akan tetap kenyang karena kerajinan dan kedisiplinannya."

3. Jangan Sombong! Mengapa ada banyak orang kaya yang tidak bisa mempertahankan kekayaannya? Mengapa ada banyak orang yang pintar dan merasa dirinya cerdas namun tidak menjadi sukses? Mengapa ada banyak pejabat-pejabat tinggi yang hidupnya berakhir dalam kesengsaraan? Mengapa ada atlet-atlet yang walaupun sudah berlatih sangat keras, namun tidak kunjung memperoleh kemenangan? Mengapa ada banyak orang yang walaupun sudah jatuh bangun dalam merintis usaha, namun tidak kunjung memperoleh hasil yang diharapkannya? Itu semua karena masih adanya benih-benih kesombongan yang pada akhirnya tumbuh menjadi tunas yang sangat berbahaya bagi diri orang-orang tersebut! Di atas langit masih ada langit, bumi yang besar ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan matahari, seluruh jagat raya ini tidak lebih besar dari Yang Menciptakannya. Sumber yang paling utama dari segala kekuatan kita, kelebihan kita, kepintaran kita, kecakapan kita, kemampuan kita bukanlah diri kita sendiri, tetapi karena kemurahan dan kebaikan Sang Pencipta yang sudah memberikan serta menganugerahkannya kepada kita. Janganlah kita menjadi sombong, karena kita memiliki apa yang tidak dimiliki oleh orang lain, tetapi berusahalah untuk tetap rendah hati, walaupun seluruh isi dunia ini ada di dalam genggaman tangan kita. "Orang yang sombong boleh saja bermimpi untuk menguasai seluruh isi dunia ini, bahkan berjuang mati-matian untuk mewujudkan mimpinya tersebut, tetapi, sampai selama-lamanya justru orang yang rendah hatilah yang akan mendapatkan segala sesuatu yang luar biasa, yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya, bahkan yang tidak pernah timbul di dalam hatinya.