Tampilkan postingan dengan label Keuangan Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keuangan Keluarga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 September 2011

Membangun Fondasi Keuangan yang Kuat dalam Keluarga

Jangan Sampai Uang Jadi Masalah

Kalau kita mau renungi, kita akan sadar bahwa uang itu adalah alat tukar yang sebetulnya hanya benda mati. Memang, uang memang ada ukurannya,dari mulai seribu, sepuluh ribu,sampai seratus ribu rupiah.Namun,berapa pun nilai uang, yang menjadi pengendalinya tetap manusia, kita sendiri, benda hidup, punya jiwa.Artinya, kalau ada yang sampai harus berpisah / bercerai karena uang, yang perlu dipikir, kenapa kita mau dikendalikan oleh benda mati?


Ada tiga hal yang perlu diperhatikan supaya fondasi keuangan agar keluarga bisa jadi kuat, yaitu penghasilan, pengeluaran, menabung & berinvestasi. Mari kita bahas satu per satu.

Penghasilan


Pertama-tama, sebuah keluarga harus punya penghasilan. Saya tak akan bicara tentang pekerjaan apa yang sebaiknya dilakukan seseorang supaya keuangan dalam keluarga jadi bagus.Tapi yang saya maksud di sini adalah, pekerjaan dengan karakter penghasilan seperti apa yang perlu dimiliki oleh setiap keluarga. Profesi yang memberikan gaji tetap misalnya, tentu kita bisa liat sendiri, seperti apa karakter penghasilannya. Anda akan mendapatkan penghasilan itu tiap bulan, dengan kenaikan sekitar 10% per tahun sesuai inflasi, sekali-sekali mungkin dapat bonus, dan begitu terus.


Pengeluaran


Fondasi keuangan kedua yang harus dipelajari adalah pengeluaran. Sebuah keluarga dan semua anggota keluarga di dalamnya sebaiknya tahu tentang bagaimana mengatur uangnya supaya cukup untuk membayar semua pengeluarannya. Ada tiga macam pengeluaran: wajib, butuh, dan ingin. Memprioritaskan untuk membayar hal-hal yang memang wajib dan butuh serta mengebelakangkan yang ingin adalah keharusan kalau sebuah keluarga ingin bisa mengatur pengeluarannya dengan baik. Tidak,tidak,saya tidak sedang mengajak Anda untuk jadi orang kikir.Saya malah percaya kalau kikir cuma membuat kehidupan kita jadi serba nggak enak, rezekinya tak berkah.


Maksudnya adalah, mengatur pengeluaran lebih kepada bagaimana kita bisa mengeluarkan uang yang tidak lebih banyak daripada yang seharusnya.Itu saja kok. Yang penting juga adalah, perhatikan bahwa banyak sekali iming-iming penjualan di sekitar kita yang memanggil-manggil kita seolah minta didatangi.Apa yang bisa dilakukan adalah dengan kembali ke pemikiran awal,bahwa jangan sampai kita terjerat dalam sifat konsumtif.Apalagi kalau konsumtifnya itu pakai utang.

Menabung dan Berinvestasi


Apa beda menabung dan berinvestasi? prinsipnya sebetulnya sama, bahwa kita menyisihkan penghasilan untuk diputar dan bisa memberikan hasil untuk masa depan. Hanya saja bahwa kata menabung lebih sering digunakan untuk menyimpan dana untuk kita pakai di waktuwaktu mendatang untuk bisa mencapai tujuan-tujuan tertentu, seperti beli rumah, beli mobil, sekolah anak, dan sebagainya. Sementara “investasi” adalah menyisihkan dana untuk bisa diputar dan memberikan hasil di masa mendatang. Kuncinya di sini sederhana, bahwa penghasilan yang kita dapatkan, harus bisa digunakan untuk membayar pengeluaran kita saat ini, dan masa depan.


Nah, untuk membayar pengeluaran kita di masa depan itulah perlunya kita menabung dan berinvestasi. Tentunya,penting buat kita untuk tahu apa saja alternatif-alternatif menabung dan berinvestasi yang ada di luar sana. Ibaratnya, kalau kita naik mobil dari Jakarta menuju Surabaya, kita bisa lewat jalur Pantai Utara.Tapi kalau jalur Pantai Utara macet, kita bisa memotong ke bawah lewat Pantai Selatan. Nah, tentunya akan lebih enak kalau kita tahu seluk beluk jalur Pantai Selatan itu seperti apa, bukan begitu?

Oke, sekarang, dengan memperhatikan ketiga hal tersebut,mengenali sumber penghasilan dan karakternya, belajar mengatur pengeluaran, dan tahu alternatifalternatif produk tabungan dan investasi, mudah-mudahan kita bisa memiliki fondasi keuangan yang kuat dalam kehidupan keluarga kita.
 

Sumber: http://id.shvoong.com/lifestyle/family-and-relations/2018873-membangun-fondasi-keuangan-yang-kuat/#ixzz1ZJkuon7k

Sabtu, 24 September 2011

Perencanaan Keuangan Keluarga

Beberapa hari yang lalu, ada seorang kawan, sebut saja si Asri, datang berkunjung ke rumah. Awalnya sih sekedar melepas kangen sambil ngobrol ngalor-ngidul. Asri ini memang baru menikah 4 bulan yang lalu. Lepas bulan madu, dia dihadapkan pada masalah-masalah domestik yang sekilas tampak bukan hal yang besar untuk diributkan, tapi ternyata cukup bikin pusing kepala. Setidaknya kepala si Asri;-)


Ada masalah pengaturan tugas rumah tangga (mereka belum punya pembantu di rumah), masalah adaptasi kepribadian masing-masing, dan yang paling pusing adalah mengatur keuangan keluarga yang cuma segitu-segitunya.

Yang terakhir ini, total dibebankan semua ke Asri, karena sang suami setelah menyetorkan gajinya, cukup nggak cukup harus cukup. Memang mereka berdua bekerja, hanya Asri bingung, kenapa saldo akhir bulan selalu nol. Padahal mereka kan harus menabung untuk mencicil rumah, untuk persiapan kelahiran bayi yang beberapa bulan lagi akan lahir, mencicil mobil, dan persiapan menabung untuk sekolah si kecil.

” Pusing aku, mbak…” Aku senyam-senyum aja mendengar curhatnya…. hal klasik yang sering kudengar. Tapi gara-gara itu, aku jadi pengen share ke orang-orang. Bukan untuk membuka aibnya si Asri ini.

Sekedar bahan perenungan, bahwa kadang tanpa sadar kita mengambil jalan yang kurang bijak dalam hal keuangan, lalu akhirnya merasa sesak sendiri karena terbelit hutang ke sana-sini. Padahal hidup ini sendiri sudah susah lho. Ngapain ditambah susah dengan hadirnya cicilan-cicilan ini-itu?


Sebenernya hidup itu simpel kok. Nggak perlu kebanyakan gaya. Jalani aja semampu kita. Kalo kita mampunya nyicil rumah tipe 45, ngapain maksain diri untuk punya rumah di Pondok Indah?
Kalo kita mampunya punya motor, kok ngoyo pengen punya mobil?
Berdalih karena mereka dibutuhkan?
Coba ukur kantong kita, bakal bolong nggak kalo kita ambil cicilan-cicilan tsb?
Mau dianggap makmur? Mending dikira kere daripada dikira kaya.

Gaya butuh modal!

Trus, gimana dong caranya kita bisa mengatur uang di rumah?

Yang paling awal adalah, menganalisa pengeluaran rumah tangga bulanan.
Mana belanja yang penting, mana yang kurang penting, mana yang tidak penting. Misalnya, apa benar kalo nggak merokok rasanya pengen mati. Wah, bukannya kalo merokok malah cepet mati?
Atau anggaran makan di restoran. Perlu dilestarikan gak nih, kebiasaan makan di restoran, atau perlu diliburkan dulu untuk saat ini?

Atau tiba-tiba ada penawaran hp baru yang harganya kira-kira 3-5 jutaan. Diambil nggak ya? Sesuai nggak antara kebutuhan kita berkomunikasi dengan fitur yang tersedia? Kalo perlunya cuma terima telpon dan sms, ngapain punya hp yang ada fasilitas e-mail dan PDA?

Selanjutnya, buatlah pos-pos tabungan. Isi terlebih dahulu kantong andas ebelum mengisi kantong pengusaha supermarket, kantong pengusaha salon, kantong pengusaha butik. Malah bagus kalau anda bisa menganggap tabungan adalah “pos” yang harus dibayar awal. Kebanyakan orang berfikir,tabungan adalah pos yang bisa dibayar belakangan.


Percaya aja, kalau model berfikir anda begini, nggak akan pernah uang anda terkumpul di tabungan. Pepatah ‘bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian’ memang masihberlaku.

Coba bayangkan, tanpa harus kerja, uang datang sendiri ke anda. Emang bisa? Kenapa nggak? Ini bukan sulap-bukan sihir kok. Mulailah berfikir untuk memiliki passive income, di mana uang datang tanpa anda harus bekerja.

Caranya gimana? Ya… kumpulkanlah aset. Aset, adalah hal-hal yang membuat kekayaan kita bertumbuh.

Rumah adalah aset?
Hati-hati dengan pemikiran itu. Coba bayangkan, rumah besar berarti overhead besar. Perlu listrik berdaya tinggi, perlu pembantu lebih dari satu untuk membersihkan, PBB yang dibayarkan juga besar.Pokoknya semuanya serba besar. Tapi apakah ia mendatangkan uang lebih banyak?

Lalu juga, apakah mobil itu aset? Yang ini jelas bukan. Wong setiap tahunnya nilainya menyusut. Tapi itulah kita, biar dikira kaya dan sukses, bela-belain nyicil mobil. Milihnya yang harganya selangit, lagi. Bukannya tambah kaya malah tambah melarat…

Ternyata kita perlu lebih teliti lagi dalam menganalisa, mana yang membuat kekayaan kita bertambah, mana yang bikin kita bangkrut. Tidak ada salahnya kita mempelajari bermacam-macam investasi.


Contoh klasik investasi adalah tanah dan emas. Rumah atau bangunan bisa menjadi aset kalau kita gunakan, misalnya untuk membangun rumah kontrakan, yang jika dimanfaatkan, antara pemasukan dan biaya pemeliharaan, itu masih lebih besar pemasukan.


Contoh lain investasi adalah surat hutang, saham, reksadana. Kalau masih asing sama yang ini, tidak ada salahnya cari tahu kanan-kiri atau di media-media komunikasi. Tentunya setiap aset memiliki resiko kerugian juga. Maka dari itu, berusahalah untuk memvariasikan aset, sehingga resiko yang mungkin diterima juga tidak membuat kita bangkrut.


Intinya, kita juga perlu menahan emosi dan mendinginkan kepala untuk melihat lebih jelas lagi, langkah mana yang bijak agar keuangan rumahtangga kita bertumbuh positif setiap tahunnya.

Selamat menjadi menteri keuangan…

sumber : keuangankeluarga.com